Senin, 18 April 2011

Pelajar yang Tidak Biasa

Pelajar yang “tidak biasa” (exceptional) adalah anak-anak yang memiliki gangguan atau ketidakmampuan dan anak-anak yang tergolong berbakat.
Siapakah anak yang menderita ketidakmampuan itu?
Disability adalah keterbatasan atau ketidakmampuan personal yang membatasi pelaksanaan fungsi seseorang.
Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada orang yang menderita ketidakmampuan.
Dulunya, istilah “disability” dan “handicap” ini sering dipakai bersamaan, namun sekarang telah dibedakan. Tujuannya adalah yaitu agar memberikan penekanan kepada si anak yang menderitanya, bukan kepada cacat atau keterbatasannya.
Pengelompokan ketidakmampuan (disorder) adalah sebagai berikut, yaitu: gangguan organ indera (sensory), gangguan fisik, retardasi mental, gangguan bicara dan bahasa, gangguan belajar (learning disorder), attention deficit hyperactivity disorder, dan gangguan emosional perilaku.
Apa saja yang termasuk dalam ketidakmampuan tersebut?
 Gangguan Indera
Gangguan indera mencakup gangguan pada penglihatan dan pendengaran.

• Gangguan Penglihatan
Ada beberapa murid yang mengalami gangguan pada penglihatan (visual) yang masih belum dapat diperbaiki. Kebanyakan dari mereka diminta untuk memakai kacamata ketika didapati sang anak yang sering mengucek-ucek mata, membaca buku dalam jarak yang dekat, sering mengeluhkan pandangan mereka yang kabur ataupun memicingkan matanya demi memperjelas penglihatannya. Tetapi, ada pula sebagian murid yang menderita gangguan penglihatan secara serius dan dapat dikatakan rusak penglihatannya. Ini termasuk kepada murid yang menderita low vision dan murid buta. Anak low vision dapat membaca buku dengan format tulisan yang besar-besar ataupun dengan menggunakan kaca pembesar.
Anak yang ”buta secara edukasional” tidak mampu menggunakan penglihatannya tetapi harus dengar menggunakan pedengaran atau sentuhan pada saat belajar. Anak-anak yang buta ini memiliki kecerdasan yang normal seperti anak pada umumnya.
Mengajarkan anak-anak yang menderita gangguan penglihatan tersebut adalah dengan cara seperti sentuhan atau pendengaran, yang dengan itu, murid akan menjadi lebih mudah dalam belajar.

• Gangguan Pendengaran
Anak yang menderita tuli biasanya memiliki kelemahan dalam berbicara dan berbahasa.
Biasanya, anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran ini sedikit sulit dideteksi, namun perilaku yang terlihat ketika anak menderita gangguan pada pendengaran dapat berupa: menempelkan telinganya pada jarak yang dekat dengan pengeras suara (loud speaker), sering meminta pengulangan, tidak mengikuti perintah, ataupun sering mengeluh tentang telinganya yang sakit.
Kebanyakan anak yang menderita gangguan pendengaran ini mendapatkan pelajaran tambahan diluar pelajaran yang didapat di kelas regular.
Anak-anak penderita gangguan pendengaran dapat dibantu dengan dua metode pendekatan pendidikan, yaitu: pendekatan oral dan pendekatan manual.
Pendekatan oral dapat berupa membaca gerakan bibir, speech reading (menggunakan alat-alat visual). Pendekatan manual dapat berupa menggunakan bahasa isyarat dan mengeja jari (finger spelling).
Beberapa kemajuan teknologi medis yang mampu menunjang kemampuan anak yang menderita gangguan pendengaran:
 Pemasangan cochlear (dengan prosedur pembedahan).
 Menempatkan semacam alat di telinga. Bukan prosedur permanen.
 Sistem hearing aids dan amplifikasi.
 Perangkat telekomunikasi, teletypewriter-telephone, dan RadioMail yang menggunakan internet.

 Gangguan Fisik
Gangguan fisik meliputi: gangguan ortopedik, seperti gangguan karena adanya cedera di otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang.
Gangguan ortopedik biasanya berupa gangguan yang berupa keterbatasan gerak, atau kurang mampu mengontrol gerakan karena adanya masalah di otot, tulang, atau sendi.
Gangguan ortopedik ini bisa disebabkan karena adanya gangguan pada masa prenatal atau perinatal, atau bahkan karena adanya penyakit dan kecelakaan yang dialami pada masa kanak-kanak.
• Cerebral Palsy adalah gangguan yang berupa melemahnya koordinasi otot, tubuh sangat goyah dan lemah, atau bicaranya tidak jelas. Penyebab utama cerebral palsy adalah kekurangan oksigen pada saat kelahiran. Anak yang menderita gangguan ini memiliki kesulitan dalam berbicara atau bicaranya tidak jelas. Synthesizer suara dan ucapan, papan komunikasi, serta peralatan talking notes dan page turner dapat membantu meningkatkan kemampuan berkomunikasi anak-anak yang menderita gangguan ini.
• Gangguan Kejang-Kejang biasanya sering ditemui jenis epilepsi. Epilepsi adalah gangguan saraf yang biasanya ditandai dengan serangan terhadap sensorimotor atau kejang-kejang.

 Retardasi Mental
Retardasi mental adalah kondisi sebelum mencapai usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Cirri utama penderita retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual.
Retardasi mental digolongkan menjadi retardasi ringan, moderat, berat, dan parah. Retardasi mental dapat disebabkan oleh faktor genetik dan kerusakan otak. Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah: down syndrome dan fragile X syndrome.

 Gangguan Bicara dan Bahasa
Gangguan bicara dan bahasa meliputi sejumlah masalah bicara seperti gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan, dan masalah bahasa yaitu kesulitan untuk menerima informasi dan bahasa eksplisit.
Gangguan bahasa mencakup tiga kesulitan:
 Kesulitan menyusun pertanyaan untuk memperoleh informasi yang diharapkan.
 Kesulitan memahami dan mengikuti perintah lisan.
 Kesulitan mengikuti percakapan, terutama ketika percakapan itu berlangsung cepat dan kompleks.

 Ketidakmampuan Belajar
Masing-masing murid menderita ketidakmampuan belajar (learning disability). Learning disability adalah ketidakmampuan anak dimana:
1. Anak mempunyai inteligensi yang normal atau di atas rata-rata.
2. Kesulitan setidaknya pada satu atau beberapa mata pelajaran
3. Tidak memiliki masalah atau gangguan lain seperti retardasi mental, atau yang mengakibatkan kesulitan.
Anak yang menderita gangguan belajar sering mengalami kesulitan untuk menulis dengan menggunakan tangan, mengeja, atau menyusun kalimat-kalimat. Yterkadang mereka menulis dengan sangat lambat, atau bahkan sering terdapat kesalahan pada kata-kata yang dituliskannya.

 Attention Deficit Hyperactivity Disorder
ADHD adalah ketidakmampuan anak yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. Kurang perhatian
2. Hiperaktif
3. Impulsif
Anak-anak yang kurang perhatian sulit berkonsentrasi pada satu hal dan akan cepat merasa bosan jika mengerjakan tugas. Anak hiperaktif menunjukkan perilaku dengan aktivitas fisik yang tinggi, dan hamper selalu bergerak. Anak yang impulsifsulit mengontrol reaksinya dan gampang bertindak tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Tanda-tanda ADHD mulai muncul pada saat anak memasuki usia prasekolah. Anak yang menderita gangguan ini biasanya tidak mampu bekerja secara independen dan tidak fokus.

 Gangguan Perilaku dan Emosional
Gangguan perilaku dan emosional terdiri dari problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan dengan karakteristik sosio-emosional.
Beberapa anak yang dikatakan memiliki gangguan emosional serius dan melakukan tindakan yang mengganggu, agresif, membahayakan, biasanya akan dikeluarkan dari sekolah. Tetapi, beberapa anak memendam problem emosional mereka, sehingga rasa takut, depresi, dan kecemasan mereka menjadi semakin kuat dan mempengaruhi terhadap kemampuan belajar mereka.

Rabu, 06 April 2011

Fenomena Pendidikan Dunia Sekolah di Indonesia

Nama Anggota Kelompok:
Chairunnisa (10-059)
Qurratu Aini Risa (10-067)
Yani Nadiawati (10-125)

Fenomena 1:
Dunia pendidikan saat ini belum merdeka, masih ingat dengan peristiwa G 30 S/PKI. saat ini mulai fenomena yang sama, awalnya adalah dengan pemberlakuan kurikulum yang padat, yang tidak bisa berekspresi dengan dunia sosial. Fenomena yang dapat berpotensi degradasi, dalam dunia pendidikan. yang seharusnya bisa memberikan aktualisasi yang lebih besar untuk membangun bangsa. Kondisi ini tidak hanya terjadi di bangku perguruan tinggi, namun saat ini telah terjadi sejak bangku SD hingga SMA. Sebuah sistem pendidikan yang tidak memberikan ruang hak asasi manusia, dalam berpendidikan. Apalagi mahalnya biaya pendidikan yang dari tahun ketahun semakin naik, sehingga masyarakat miskin di desa maupun kota tidak dapat menikmatinya. Kalau kita pikirkan bahwa negara indonesia merdeka sudah 65 tahun lamanya yang bisa kita analogikan seperti manusia. Umur seperti itu sudah layak menjadi kakek dan nenek, umur 65 bisa kita sikapi untuk bisa bangkit lebih tegak melalui potensi sumber daya manusia, terutama dalam dunia pendidikan yang diharapkan akan semakin meningkat, bukannya menurun. Dengan banyaknya paradigma yang tidak mendukung bangsa indonesia, sekali lagi akan rendahnya dunia internasional memandang bangsa indonesia.

Fenomena 2:
Menghadapi perkembangan dunia komunikasi khususnya internet, seorang guru akan sangat ketinggalan jika sedikit pun beliau tidak tau mengenai apa yang namanya internet. Sementara bagi para anak didiknya, internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, bisa dikatakan, informasi yang diterima pastinya lebih aktual, baru atau up to date. Dan sebaiknya ini harus diimbangi dengan SDM yang mendukung pula. Dengan internet, tanpa sekolah pun mereka dapat ilmu pengetahuan, referensi, artikel dan sebagainya, tetapi tidak terlepas juga adanya unsur negatif didalamnya. Bila hal ini tidak dicermati oleh dunia pendidikan kita, bisa saja sekolah hanya akan menjadi bangku-bangku kosong, bila ada siswa pun karena terpaksa, sebab sekolah sekarang bukannya makin murah, malah membutuhkan semakin banyak biaya. Dari sisi seorang guru mungkin teknologi informasi merupakan dunia yang sedikit sulit dicerna karena adanya keterbatasan kemampuan. dan lagi ditambah dengan rutinitas di sekolah, tentunya menjadi semakin sulit untuk berinteraksi melalui internet. Sesungguhnya pada saat ini posisi seorang guru sangat sulit, dikarenakan kurikulum yang selalu berganti-ganti, dan gaji guru yang masih kurang mencukupi kebutuhan masing-masing beliau. Maka dari itu rasanya tidak adil apabila kita menuntut beliau-beliau untuk melakukan semuanya secara proporsional. Dunia pendidikan di Indonesia sangat lemah, dan ketinggalan dibandingkan negara-negara tetangga. bahkan, lulusan SMA tidak dapat pengakuan di negara tetangga karena rendahnya mutu pendidikan yang ada di negara kita sendiri.

Fenomena 3:
Mengenai kekerasan yang ada di lingkungan pendidikan. Akhir-akhir ini sering kita dengar berita melalui media masa tentang adanya kekerasan di beberapa sekolah. Kekerasan itu dilakukan oleh oknum guru kepada siswa. Beragam pandangan pastinya muncul secara otomatis di kalangan masyarakat. Suara mayoritas masyarakat berpendapat bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh pihak guru merupakan salah satu bentuk tindakan yang sangat tidak manusiawi dan melampaui batas kewenangan para guru sebagai seorang pendidik. Dan mungkin masih ada yang berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh pihak guru tersebut merupakan salah satu bentuk pendidikan untuk memberikan dan menanamkan nilai-nilai disiplin kepada siswa.

Jika dikaitkan kepada teori, teori Psikologi Pendidikan yang dikemukakan pleh E.L. Thorndike: Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai sentral, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti: kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya.

Selasa, 15 Maret 2011

inteligensi


Apakah inteligensi itu?
Inteligensi adalah kemampuan kognitif individu dalam menerima pengalaman baru. Beberapa pakar mendeskripsikan inteligensi sebagai keahlian untuk memecahkan masalah (problem solving). Yang lainnya mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Karena inteligensi adalah konsep yang abstrak dan luas, maka tidak mengherankan jika ada banyak defenisi.

Apa saja yang merupakan tes inteligensi yang dinilai secara individual?
Tes Binet. Pada tahun 1904, Menteri Pendidikan Perancis meminta psikolog Alfred Binet untuk menyusun metode guna mengidentifikasi anak-anak yang tidak memiliki kemampuan untuk belajar di sekolah. Binet dan mahasiswanya, Theophile Simon, kemudian menyusun tes inteligensi untuk memenuhi permintaan ini. Tes ini disebut Skala 1905. Tes ini terdiri dari tiga pertanyaan, mulai dari kemampuan untuk menyentuh telinga sampai kemampuan untuk menggambar desain berdasarkan ingatan yang dimiliki si anak dan mampu mendefenisikan konsep abstrak.
Binet mengembangkan konsep mental age (MA) atau disebut dengan usia mental, yaitu level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lainnya. Kemudian pada tahun 1912, William Stern menciptakan konsep intelligence quotient (IQ), yaitu usia mental seseorang dibagi dengan usia kronologis (chronological age-CA), dikalikan 100. Jadi, didapatlah rumusnya: IQ = MA/CA x 100.
Jika usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ-nya lebih dari 100. Jika usia mentalnya dibawah usia kronologis, maka IQ-nya dibawah 100.
Tes Binet direvisi berkali-kali untuk disesuaikan dengan kemajuan dalam pemahaman inteligensi dan tes inteligensi. Revisi-revisi ini disebut tes Stanford-Binet, karena revisi ini dilakukan di Stanford University. Tes Stanford-Binet kini dilakukan secara individual untuk individu yang berusia mulai dari 2 tahun hingga dewasa. Edisi keempat tes Stanford-binet dipublikasikan pada 1985. Tes Stanford-Binet masih merupakan salah satu tes yang paling banyak digunakan untuk menilai inteligensi siswa.

Tes Wechsler. Salah satu tes inteligensi lainnya yang dikembangkan oleh David Wechsler. Tes ini mencakup Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised (WPPSI-R) yang digunakan untuk menguji anak usia 4 sampai 6½ tahun; Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk anak remaja dari usia 6 hingga 16 tahun; dan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R).
Skala Wechsler menunjukkan IQ secara keseluruhan, menunjukkan IQ verbal dan IQ kinerja. Hal ini dapat membantu peneliti untuk melihat dengan cepat perbedaan area inteligensi murid-murid yang berbeda-beda.

Daftar Pustaka :
Santrock., J.W. 2008. Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group.

Minggu, 13 Maret 2011

pembelajaran johari window


Johari Window atau Jendela Johari adalah salah satu cara bagaimana untuk melihat dinamika self-awareness, dan berkaitan dengan perasaan, perilaku dan motif. Johari Window ini diciptakan pada tahun 1955 oleh Joseph Luft dan Harry Ingham untuk mengamati bagaimana cara kita memahami diri kita sendiri.
Model Johari Window ini terdiri dari 4 kuadran, yaitu:
·        Kuadran 1 (Terbuka), yaitu merujuk pada sesuatu yang kita ketahui dan orang lain pun mengetahuinya.
·        Kuadran 2 (Buta), yaitu merujuk pada sesuatu yang diketahui orang lain, tetapi tidak diketahui oleh kita sendiri.
·        Kuadran 3 (Tersembunyi), yaitu merujuk pada sesuatu yang kita ketahui, namun orang lain tidak mengetahuinya.
·        Kuadran 4 (Misteri), yaitu merujuk pada sesuatu yang tidak kita ketahui dan orang lain pun tidak mengetahuinya.
Dalam pembahasan Johari Window ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus mengurangi ukuran kuadran kedua yang merupakan area yang rapuh, karena didalamnya berisikan tentang apa yang diketahui orang lain, tidak diketahui oleh kita, bahkan mungkin ketidaktahuan kita itu karena kita menganggap sesuatu hal secara sepele sehingga sering mengabaikannya.
Pada pertemuan perkuliahan Selasa, 8 Maret 2011, kami menggunakan metode Johari Window ini dengan membahas bagaimana sifat atau karakter yang dimiliki oleh teman-teman yang dekat dengan kita, sejauh mana kita mengenali teman kita dan sejauh mana pula teman kita mengenali kita.
Evaluasi pembelajaran kali ini kami kaitkan dengan teori Piaget, yang menyatakan bahwa untuk dapat memahami sesuatu, kita menggunakan skema atau konsep yang sudah tertanam di pikiran kita. Begitu pula ketika kita mengidentifikasi dan menilai teman, maka apa yang kita deskripsikan merupakan perwujudan dari apa yang telah kita konsepkan. Proses kognitif akan berkembang ketika kita mengembangkan konsep yang telah tertanam. Ketika kita mengevaluasi sifat masing-masing, maka akan ada sifat yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari sebelumnya dan menjadikannya informasi baru yang merupakan penambahan mengenai diri kita sendiri. Proses ini dinamakan asimilasi, yaitu proses mental yang terjadi ketika seseorang memasukkan informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada.
Kemudian, kami mencoba mengaitkannya dengan motivasi. Dapat kita ketahui bahwa motivasi itu terdiri dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Dalam hal ini, motivasi intrinsik merupakan suatu dorongan dalam individu, dapat dikatakan, pada kegiatan kali ini, motivasi intrinsik seseorang yaitu sebagai indikator untuk berafiliasi atau berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Sementara motivasi ekstrinsik merupakan dorongan yang kita dapat dari lingkungan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lingkungan dapat membentuk dan menuntut kita untuk bertindak atau berperilaku dalam membangun hubungan sosial. Pada intinya, motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik itu sama, hanya terdapat perbedaan di sumbernya saja. Bagaimana kita berperilaku, bertindak serta berinteraksi dengan orang lain berkaitan dengan motif sosial.

Rahasia Jubah Tembus Pandang

Harry Potter di tahun pertamanya :D
Jubah tembus pandang Harry Potter ternyata jubah sihir teknologi. Maksudnya, jubah itu dibuat dengan bantuan teknologi. Mau tau teknologinya ? Yuuuk lihat ;)

naaah ini kan bukan Harry Potter, loh kok bisa tembus pandang yaaah ????



Tipuan Penglihatan
Teknologi yang digunakan untuk membuat jubah tembus pandang dinamakan kamuflase optik atau tipuan penglihatan. Teknologi ini pertama kali dibuat oleh Ivan Sutherland dan para mahasiswanya di Universitas Harvard dan Utah.
Teknologi ini dapat diwujudkan dengan bantuan seperangkat alat khusus. Alat-alat ini antara lain: bahan berdaya pantul tinggi, kamera video, komputer grafis, proyektor atau alat untuk memproyeksikan (menyorotkan) gambar pada layar, dan cermin khusus berbahan perak sebagai pengumpul gambar. Cermin ini sekaligus sebagai jendela untuk melihat hasil tipuan penglihatan ini.


Jubah Berbahan Khusus
Jubah yang digunakan Harry Potter dibuat dari bahan yang dapat memantulkan cahaya dengan baik. Bahan ini terdiri dari ribuan manik-manik kecil. Manik-manik ini berfungsi memantulkan cahaya ke arah tempat asal dia datang dengan tepat. Dengan begitu, orang yang berdiri di tempat asal datangnya cahaya akan menerima pantulan sinar dengan kuat. Berbeda jika cahaya mengenai permukaan kasar. Cahaya itu akan dipantulkan secara menyebar.



Bagaimana Cara Kerjanya????


 ini dia ilustrasinya :D

1. Kamera Digital (Digital Video Camera) merekam pemandangan di belakang orang yang mengenakan jubah khusus.
2. Komputer Grafis, hasil rekaman kamera digital diteruskan ke komputer grafis. Gambar diolah dengan komputer grafis agar cukup jelas saat dipancarkan.
3. Proyektor atau alat pemancar gambar menerima gambar dari komputer, lalu memproyeksikan gambar itu ke cermin khusus.
4. Cermin khusus memantulkan gambar dari proyektor ke orang yang mengenakan jubah.
5. Jubah khusus yang bermanik-manik itu memantulkan kembali cahaya yang berisi gambar ke arah cermin khusus.
6. Cahaya yang dipantulkan jubah menembus cermin khusus dan jatuh ke mata orang yang melihat di belakang cermin. Cahaya yang dipantulkan itu berupa gambar yang ada di belakang orang yang mengenakan jubah.
Orang yang mengenakan jubah tampak menghilang sebab pemandangan di belakangnya (gambar pohon) ditampilkan di atas jubahnya. Begitulah jubah tembus pandang dibuat. Sederhana kan ?

Teknologi membantu kita mewujudkan hal-hal yang dulu dianggap mustahil. Termasuk adegan-adegan fantasi dalam film. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa teknologi adalah fantasi yang masuk akal. Setuju tidak ? Kalau kita sudah tau tekniknya, pasti informasi bertambah, Lumos Maxima :D


Senin, 21 Februari 2011

UPIN & IPIN

Upin dan ipin merupakan karakter tokoh animasi yang cukup terkenal serta menarik perhatian masyarakat khususnya penikmat industri hiburan beberapa waktu belakangan ini. Awalnya, upin&ipin ini hanya ditayangkan di televisi pada saat-saat tertentu saja seperti pada bulan Ramadhan. Namun, pasar secara jeli melihat fenomena meledaknya kedua tokoh kartun ini yang menarik perhatian masyarakat, sehingga kemudian dibuatlah sebuah film "Upin&Ipin Geng: Pengembaraan Dimulai".
Pada proses pembuatannya, film ini dibuat dalam waktu yang cukup lama, mulai dari dubbing, editing, penulisan naskah, pembuatan animasi, dan lain-lain. Pembuatan film ini menggunakan teknologi yang sudah sangat canggih, bahkan mungkin di negara kita sendiri belum dapat diciptakan sebuah karya dengan menggunakan teknologi yang sudah semaju itu. Kerja keras para pembuat film ini terbayar dengan kesuksesan yang diraih dari booming-nya film "Geng" ini di Malaysia bahkan di negara kita sendiri, Indonesia.
Film "Geng" ini tidak hanya sekedar animasi, tetapi juga sarat akan pendidikan yang dapat kita temui ketika kita menontonnya. Salah satunya yaitu pendidikan Islami yang sangat kental pada masyarakat Malaysia, serta menceritakan bahwa adanya toleransi antartokoh yang diceritakan memiliki keberagaman suku, agama, ras, adat dan budaya para tokoh.

Selasa, 15 Februari 2011

post 2 (psikologi pendidikan)

Guru sebagai pemateri dalam kegiatan belajar mengajar, apakah hanya sekedar memberikan materi saja ?

Guru tidak hanya sekedar memberikan materi, namun apa yang diberikan oleh pengajar pada saat mengajar tentunya semua telah dirancang sebagai sebuah perencanaan. Sebuah perencanaan yang matang merupakan proses awal yang menentukan siap atau tidaknya kita menghadapi sesuatu, contohnya seperti dalam proses belajar. Dapat dikatakan bahwa orang yang meraih kesuksesan adalah orang yang dengan perencanaan yang matang. Dalam pendidikan kita mengenal istilah perencanaan instruksional. Perencanaan instruksional merupakan suatu perencanaan pembelajaran yang telah disusun dan tertata dengan rapi sebagai salah satu strategi dalam pengajaran.
Dalam hal ini, sang pengajar perlu menentukan strategi pengajaran sebagai modal awal untuk menerapkan bagaimana cara belajar yang efektif. Si pengajar harus menentukan bagaimana caranya mengajar, materi apa saja yang akan disampaikan, dan apa yang harus dia lakukian agar tercipta suasana belajar dan mengajar yang efektif. Perencanaan sebelum dimulainya proses belajar mengajar sangat diperlukan, karena dapat memperbaiki dan meningkatkan kinerja pengajar, memanfaatkan waktu yang tersedia, menyampaikan materi yang tidak sia-sia, menambah rasa percaya diri, dan juga dapat memaksimalkan kegiatan belajar mengajar yang berlangsung.
Perencanaan yang baik adalah perencanaan yang rapid an terlaksana, serta bersifat fleksibel, dimana harus disesuaikan juga dengan berlalunya hari, bulan bahkan tahun.  Ada kalanya kita mengubah perencanaan, yaitu ketika ada kejadian-kejadian baru yang mungkin belum ada di dalam daftar perencanaan kita.

Daftar pustaka:
Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group